Denyut Jejak

Oleh: Untung

Divisi Data PPK Tulakan Periode Juni 2020 – Januari 2021

Hawa dingin begitu menguar, seakan turut menyelimuti tubuhku, yang sudah kubalut sarung motif, maklum tempat tinggalku berada disudut pedesaan yang masih asri. Segelas kopi yang disiapkan istriku belum kunjung kusentuh, aku masih menerawang jauh sebelum hari ini. Bagaimana bisa aku melintasi keadaan, yang di luar kebiasaan, bahkan membayangkanya saja serasa tak sanggup, namun kenyataanya masa itu sudah terlewati. Mendatangkan rindu yang tak terbilang, namun berulang-ulang.

Pacitan, http://kab-pacitan.kpu.go.id – Sehari-hari menjadi pengajar, di sekolah yang masih satu desa dengan tempat tinggalku, mungkin sudah puluhan tahun, aktivitas itu kugeluti, tak membuat kapok, justru makin nyaman. Sesekali diselingi, barang sejenak mencoba menyapa dunia politik, bukan menjadi kandidat yang mencalonkan diri, masih sebatas merangkak di kepengurusan pemilu. Tak usah disebut, jika itu bukan background pendidikanku. Ah rupanya suara itu hanya datang dari ilusiku saja.

Semenjak bergabung dan didapuk menjadi PPL, yang serasa ninja tahu-tahu ganti nama jadi PPKD, terbilang abadi, sejak 2008-2019, jagoan ibuku ini, tak sekalipun pindah haluan, apalagi pindah lokasi, masih sama di Desa Gasang Kecamatan Tulakan, tahu itu dimana, nanti kita cari bersama-sama.

Termakan bujuk rayu, penuh keindahan, dibumbui dengan embel-embel menambah pengetahuan dan pengalaman, yang dengan hal seperti itu, membuatku tertantang. Aku sangat suka pengetahuan baru, hal baru, dan apapun yang serba baru, akhirnya tergoyahkan juga, keabadianku di PPKD, akhirnya mencoba melirik menjadi PPK, biar naik level rekan yang membujukku menyebutnya.

Bermodalkan basmallah, kembali kuluruskan niat yang sempat bengkok sejenak. Tak semulus ekpetasi, nyatanya sudah ada 29 pendftar yang bakal memeperebutkan 5 kursi PPK di satu kecamatan. Pening tiba-tiba menyapaku, keringat dingin mulai bersarang, bahkan tanganku gemetaran, aku sadar sejak pagi belum satupun makanan bersemayam dalam lambungku, bergegas, kulangkahkan kaki mencari makan. Sambil memperhitungkan, seberapa persen peluang yang bisa kurenggut.

Belajar dari berbagai sumber, bahkan juga belajar dengan para pesaing, sungguh keren rasanya, membahas latihan soal soal kepemiluan yang mungkin saja nanti akan keluar di tes tulis, seperti PKPU, undang undang pemilu, dan sederet hal baru, yang makin kugilai untuk dipelajari.

Kalender di samping jendela kamarku, terlihat lebih jelas dan memberikan energi mendebarkan, tertulis 30 Januari 2020, waktu untuk mengikuti ujian tulis seleksi PPK untuk masuk 10 besar. Waktu berselang, tak sempat aku bermimpi banyak-banyak, hanya berharap lolos saja, tapi diganjar lebih, nilaiku melambung jauh di antara pesaing yang lain, tertinggi se-kecamatan, dan terbaik se-Kabupaten Pacitan. Senyum-senyum aku mendengar kabar itu, mau sombong sadar aku seorang pengajar, tak elok rasanya, kalau tidak disombongkan kata rekanku, sangat disayangkan. Kuputuskan memilih diam. Dan sehari itu, senyum enggan berpaling dari wajahku, serasa mengulang jatuh cinta pandangan pertama pada istriku, saat dulu.

Berlanjut ke wawancara, ternyata aku bisa melaluinya. Dan pada akhirnya perjuangan tahap demi tahap, kala kutengok ke belakang sudah kulalui, dan di depan sudah terhampar tugas yang perlu dipertanggungjawabkan.

Awal menjadi PPK, dimulai dengan pembagian masing-masing divisi, dari lima orang yang lolos, tak sempat menimbulkan polemik, atau permasalahan serius, semua sudah menempati posisi dalam 5 divisi dari Keuangan, SDM dan Parmas, Data, Logisitik dan Tenis penyelenggaraan. Masing-masing tertata sangat epik, aku saja kagum. Bisa-bisanya menempati posisi divisi data, menjadi penanggung jawabnya, meskipun memang kita semua berlima, saling melengkapi, saling mendukung, dan saling membatu satu sama lain.

Menyongsong hari dengan semangat baru, menjadi bagian dari PPK layaknya medan perang, mengatur strategi. Dan itu sementara harus terhenti, covid-19 yang mewabah di Indonesia, juga bertandang ke Pacitan, sehingga pemilihan serentak musti dihentikan. Badan adhoc termasuk PPK dinonaktifkan sampai batas waktu yang belum ditentukan, termasuk rencana dan anganku. Saat seperti ini, aku bernostalgia, dulu juga pernah digantungkan tanpa kepastian. Ah tapi ini tak usah kuceritakan.

Penantian panjang itu, terbayar tuntas, badan adhoc PPK kembali diaktifkan. Pemilihan serentak lanjutan dilaksanakan, dengan menerapkan protokol kesehatan. Pelantikan diselenggarakan, yang kusuguhkan masih dengan senyum yang seirama saat aku dinyatakan lolos PPK. Memastikan dalam kondisi baik, jajaran PPK, PPS dan juga PPDP, sebelum terjun menjalankan tugasnya saat hari pemilu, harus menjalani rapid tes.

Mendebarkan tapi kuyakin bakal baik-baik saja, hasilnya menguatkan kepercayaan diriku. Tugas berat sebagai ketua divisi data PPK, menghampiriku, data pemilih selalu berubah-ubah dan tugas untuk mengerjakan data ini mulai paling awal, pun data ini akan selalu digunakan pada saat pemilihan.

Kordinasi lantas kugencarkan, tak sedikit cerita dari PPDP saat coklit (pencocokan dan penelitian) dari rumah ke rumah, yang dihiasi perjuangan, ada warga yang saat didatangi, menutup pintunya karena takut tertular korona, termasuk ada yang enggan dicoklit. ada juga yang dokumen kependudukannya hilang dan hanya memiliki dokumen lama yang tidak berlaku, termasuk ada yang tidak di rumah, sehingga harus mendatangi dua kali, benar-benar sebuah warna yang indah.

Semua bisa teratasi, kemudian dilanjutkan penyusunan daftar pemilih. Menempati kecamatan yang jumlah penduduknya paling banyak, ada 16 desa dengan 184 TPS, berbagai permasalahan dan kendala turut menorehkan saturasi warna, semua harus diselesaikan tepat waktu, serentak dengan kecamatan lain.

Tawa yang kerap hadir, sejenak harus lenyap, saat semua serius menyelesaikan. Semangat terus kupompa, titian tahapan demi tahapan pemutakhiran data pemilih, berjalan sesuai yang aku targetkan. Aku tersenyum, lamunanku buyar bebarengan dengan tangis anak tetanggaku yang pecah. Kopi di depanku rupanya sudah dingin, seusai kusesap, air nan hitam itu tampak menatap berbeda, seakan bangga dengan perjuanganku. (Divisi Data PPK Tulakan/Tim Bakohumas KPU Pacitan)

Add a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.